Ustadz Fuad Hamzah Barabah

Hak Pengasuhan Anak

Hak Pengasuhan Anak

๐Ÿ“– Hadits kedelapan puluh tiga dari buku 100 hadits tentang Wanita

Terkadang dalam berumah tangga tidak selalu berjalan mulus dan lancar, terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Keributan karena ketidak sesuaian dalam menjalani kehidupan rumah tangga, sehingga terjadilah perceraian. Dan akhirnya anaklah yang menjadi korban.

Lalu, siapa yang berhak untuk mengasuh dan merawat sang anak?

ุนูŽู†ู’ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุดูุนูŽูŠู’ุจู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุฏู‘ูู‡ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ: ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงุจู’ู†ููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูŽุทู’ู†ููŠ ู„ูŽู‡ู ูˆูุนูŽุงุกู‹ุŒ ูˆูŽุซูŽุฏู’ูŠููŠ ู„ูŽู‡ู ุณูู‚ูŽุงุกู‹ุŒ ูˆูŽุญูุฌู’ุฑููŠ ู„ูŽู‡ู ุญููˆูŽุงุกู‹ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุจูŽุงู‡ู ุทูŽู„ู‘ูŽู‚ูŽู†ููŠ ูˆูŽุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ุชูŽุฒูุนูŽู‡ู ู…ูู†ู‘ููŠ. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ๏ทบ: ุฃูŽู†ู’ุชู ุฃูŽุญูŽู‚ู‘ู ุจูู‡ู ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูŽู†ู’ูƒูุญููŠ. โ€ุฃูŽุจููˆู’ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Abdullah bin Amr:

“Bahwasanya ada seorang perempuan bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, ini adalah anakku, perutku yang mengandungnya, susuku yang diminumnya, pangkuanku yang memangkunya, kini ayahnya menceraikanku, dan dia bermaksud merampas anak ini dariku”.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

“Engkau lebih berhak terhadap anak ini selama kau belum menikah”. (HR. Abu Daud).

Hadits yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwasanya seorang ibu lebih berhak dalam pengasuhan anak (yang belum baligh) selama dia belum menikah lagi dengan laki-laki lain.

Allahu a’lam.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button