SBUMSBUM Ikhwan

N 041. BOLEHNYA ISTRI CURHAT KEPADA SUAMI & CIRI-CIRI ANAK DURHAKA

BOLEHNYA ISTRI CURHAT KEPADA SUAMI & CIRI-CIRI ANAK DURHAKA

(Sobat Bertanya Ustadz Menjawab)  

 

Pertanyaan

Nama: Fulan bin Fulan

Angkatan : N01

Grup : 038

Domisili :

 

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

  1. Afwan menggagu waktunya.

Bismillah. Pak Ustadz izin bertanya, bolehkah seorang istri curhat kepada suami tentang ibunya yang selalu memarahinya karena soal sepele, karena ibunya kalau memarahi istri saya selalu berlebihan keluar kata-kata hewan, kasar kepada istri saya. Kata ibunya istri saya jangan segala mengadu sama suami itu dosa besar. Tetapi istri ana niatnya ingin curhat sampai menangis saya coba menyabarkannya. Bagaimana hukumnya, Pak Ustadz jika istri ana suka curhat tentang perlakuan ibunya yang terkadang membuat sakit hati. Qodarullah ana tinggal dengan mertua. Jazaakallahu khairan sebelumnya

  1. Afwan ciri-ciri anak durhaka itu seperti apa? Dan adakah orang tua durhaka kepada anaknya ?

 

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم.

 

Jawaban

 

وعليكم السلام ورحمة اللّه وبركاته

بسم الله

1️. Kalau untuk curhatnya Insyaa Allah tidak mengapa, karena memang tabiat wanita demikian. Sama seperti kisah Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tatkala menceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang 11 wanita yang saling terbuka dengan keadaan suaminya. Mulai dari yang paling buruk sampai yang paling baik yakni Abu Zar’in, lalu Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun mengomentari,

كُنْتُ لَكِ كَأَبِي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ

“Aku bagimu seperti Abu Zar’in kepada Ummu Zar’in”

[ HR Bukhari 4893 dan Muslim 2448 ]

 

Sehingga tidak masalah pula bagi suami untuk mendengarkan curhatan istri, entah itu tentang kesibukannya, kelelahannya, atau keluarganya, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan sabar mendengarkan kisah panjang Aisyah tanpa sedikitpun memotong pembicaraannya, padahal Beliau pasti memiliki kesibukan dan urusan penting yang sangat banyak.

Di antara faedah dari kisah Abu Zar’in dalam shahih Bukhari dan Muslim di atas adalah seorang suami yang baik adalah suami yang mendengarkan pembicaraan atau curhatan istrinya serta tidak memotong pembicaraannya.

Bahkan termasuk sikap yang baik apabila sebelum tidur menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan istrinya dan menyentuhkan tangannya kepada istrinya sebagai tanda kasih sayangnya. Kemudian jika sang istri memunculkan adanya perubahan pada sikapnya (baik kesedihan atau rasa sakit) maka hendaknya suami tanggap dan segera menunjukkan perhatian pada istrinya

Di antara faedah lainnya adalah suami shalih itu suami yang dekat dengan istrinya, yang bisa menjadi tempat mencurahkan hati istrinya dan bukan yang ditakuti oleh istrinya. Suami yang selalu bertanya kepada istrinya tentang kondisi dirinya meskipun sang istri tidak menampakkan tanda-tanda perubahan, hal inilah yang Insyaa Allah dapat membuat sang istri merasa diperhatikan, sekaligus mengurangi segala kepenatan dan kesedihannya.

Catatannya adalah hendaknya tidak semua ‘keburukan’ atau ‘aib’ ibunya disampaikan kepada suami. Tujuannya agar suami dapat lebih terjaga ‘hati’ dan ‘pikirannya’ sehingga bisa obyektif dalam menilai dan bisa menenangkan istri saat emosi kepada ibunya.

Karena jika suami tau segala keburukan dan aib sang mertua, ia akan ikut membenci mertuanya dan tidak bisa meredam istri untuk sabar saat sedang terluka.

 

2️. Sebab kedurhakaan anak itu bermacam-macam, karena memang cakupan durhaka itu luas sekali. Berkata kasar pada orang tua termasuk durhaka, muka cemberut juga termasuk durhaka bahkan menerima telepon dengan kasar pun sudah termasuk durhaka, apalagi sampai memaki dan mengejek orang tua, maka ini jelas kedurhakaanya.

Catatannya adalah kedurhakaan ini bukan hanya terkait dengan orang tua, tapi juga aturan Allah. Sehingga tidak termasuk durhaka jika kita mendahulukan kewajiban pada Allah, sebagaimana juga tidak termasuk durhaka jika kita tidak taat orang tua dalam maksiat. Ketaatan pada orang tua itu wajib dalam segala hal selain perkara maksiat dan menyelisihi perintah keduanyalah (Allah dan Orangtua) yang disebut durhaka.

 

وَاعْبُدُوا الله وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Beribadahlah hanya kepada Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”

(QS. An-Nisa : 36)

 

Perlu dipahami juga bahwa tidak ada istilah orang tua durhaka pada anak, yang ada adalah kezhaliman.

Nasihat kami kepada Anda sekeluarga adalah:

✔ Bersabar menghadapi sikap orang tua yang demikian.

✔ Tetap berbakti dan taat kepada orang tua yang demikian  selama perintahnya tidak melanggar syari’at.

✔ Jangan sampai durhaka kepada orang tua, meskipun orang tua tidak bermuamalah dengan baik dengan kita

✔ Berbakti pada orang tua bukanlah hukum sebab akibat, bukan karena orang tua baik kepada kita sehingga kita berbakti pada orang tua, dan bukan karena orang tua tidak baik pada kita sehingga kita boleh berbuat buruk kepada orang tua, tetapi bagaimanapun keadaan orang tua kita, kita harus tetap bakti pada mereka.

✔ Hendaknya Anda sebagai suami tetap bersikap pertengahan, tetap menenangkan sikap istri yang sedih, dan tidak perlu terlalu tahu banyak tentang keburukan orang tua (mertua) agar Anda bisa tetap husnuzhan padanya, sekaligus menasihati istri untuk husnuzhan kepada orang tuanya.

 

والله تعالى أعلم

 

Dijawab oleh : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah

 

Official Account Grup Islam Sunnah (GiS)⁣⁣

WebsiteGIS: grupislamsunnah.com 

Fanpage: facebook.com/grupislamsunnah 

Instagram: instagram.com/grupislamsunnah 

WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com 

Telegram: t.me/s/grupislamsunnah 

Telegram Soal Jawab: t.me/GiS_soaljawab 

YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button