SBUMSBUM Ikhwan

SBUM IKHWAN NOMOR 256 – Hukum Donor Organ Tubuh Manusia

SBUM
Sobat Bertanya Ustadz Menjawab

 

NO : 256

Dirangkum oleh Grup Islam Sunnah | GiS
https://grupislamsunnah.com

Kumpulan Soal Jawab SBUM
Silakan Klik : https://t.me/GiS_soaljawab

 Judul bahasan

Hukum Donor Organ Tubuh Manusia

 Pertanyaan

Nama:
Angkatan:
Grup : N19
Nama Admin :Mochtar Abu Shafiyyah
Nama Musyrifah : Anas Dwi Cahyono
Domisili : Surabaya :

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Afwan ustadz, izin bertanya.
Bagaimana hukumnya jika kita meminta donor (organ tubuh, misal kornea mata, ginjal atau yang lainnya) kepada rumah sakit, tetapi dari pihak rumah sakitnya tidak memberi tahu apakah dari pendonor yang sudah wafat atau yang masih hidup, itu bagaimana ya ustadz, apakah diperbolehkan ?

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم.

  Jawaban

وعليكم السلام ورحمة اللّه وبركاته

بسم الله

Maka yang harus dilakukan adalah bertanya kepada pihak rumah sakit, dan minta keterangan yang jelas. Jikalau pihak rumah sakit tidak ingin memberi tahu, maka silahkan di cari pendonor yang jelas riwayat nya.
Karena dikhawatirkan akan menimbulkan bahaya yang lebih besar.
Akan tetapi apabila bisa dipastikan bahwa organ yang didonorkan adalah orang yang sudah meninggal, maka tidak masalah menerima donor dari nya, dengan syarat harus izin dari ahli waris, dan kepada pemerintah jikalau identitas mayat tidak diketahui dan donor tersebut bisa menyelamatkan nyawa yang akan di beri organ tersebut menurut dokter ahli.

Hukum donor organ manusia ada penjelasannya.

1. Jika pendonor masih hidup

Mendonor organ tubuh apabila menyebabkan bahaya bagi pendonor, seperti organ hati, paru paru, kepala, hal ini terlarang karena sama saja membahayakan pendonor. Apabila yang didonorkan anggota badan yang tidak membahayakan pendonor maka hal ini diperbolehkan selama sesuai dengan petunjuk dokter ahli. Bahkan hal ini merupakan pintu kebaikan dan bantuan kepada yang membutuhkan. Hal ini telah dibahas panjang lebar dalam pembahasan maqashid syariah, tentang tujuan pensyariatan sebuah hukum.

2. Jika seseorang meninggal, kemudian dia ingin berwasiat mendonorkan organnya (bukan jual beli organ, kesadaran sendiri tidak ada paksaan), seperti ucapan : “anakku, saya mungkin meninggal sebentar lagi, saya wasiatkan ginjal saya untuk saudara kecilmu yang kelainan ginjal, semoga cocok untuk dia”.
Dan menurut dokter ahli, tidak ada pengobatan selain jalan ini (darurat), maka hal ini dibolehkan dengan alasan:

kaidah: bahwa maslahat orang hidup lebih diutamakan dari maslahat kehormatan orang yang sudah meninggal.

fatwa dari Majma’ al-Fiqh al-Islami, Bolehnya memindahkan anggota tubuh dari orang mati ke orang hidup :

 يجوز نقل عضو من ميت إلى حي تتوقف حياته على ذلك العضو، أو تتوقف سلامة وظيفة أساسية فيه على ذلك؛ بشرط أن يأذن الميت أو ورثته بعد موته، أو بشرط موافقة ولي المسلمين إن كان المتوفى مجهول الهوية أو لا ورثة له

“Boleh hukumnya memindahkan organ tubuh mayyit kepada orang hidup yang sangat bergantung keselamatan jiwanya dengan organ tubuh tersebut, atau fungsi organ vital sangat tergantung pada keberadaan organ tersebut.

Dengan syarat si mayit atau ahli warisnya mengizinkan. Atau dengan syarat persetujuan pemerintah muslim jika si mayyit seorang yang tidak dikenal identitasnya dan tidak memiliki ahli waris.”

والله تعالى أعلم

 Dijawab oleh : Ustadz Mahatir Fathoni S.Ag

Official Account Grup Islam Sunnah (GiS)⁣⁣

WebsiteGIS: https://grupislamsunnah.com
Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
Telegram Soal Jawab: https://t.me/GiS_soaljawab
YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button