Tanya Jawab Ustadz Fuad Hamzah Barabah

  • Bagi Kita Yang Banyak Dosanya

    Bagi Kita Yang Banyak Dosanya

    Tentu kita sebagai manusia banyak berbuat kesalahan dan dosa, namun Allah Ta’ala yang maha pengampun lagi maha penyayang memberi kesempatan kepada kita untuk beramal shaleh agar Allah Ta’ala mengampuni kita.

    Di anatara cara Allah Jalla wa ‘Azza mengampuni kita ketika kita memperpanjang ruku dan sujud

    Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

    إن العبد إذا قام يصلي أتى بذنوبه كلها فوضعت علىعاتقيه فكلماركع أو سجد تساقطت عنه

    “Sesungguhnya seorang hamba apabila berdiri untuk shalat, didatangkan dosa-dosanya seluruhnya, kemudian diletakan di atas kedua pundaknya, setiap kali dia ruku atau sujud berguguranlah dosa-dosanya itu”. (Silsilah Hadits Shahih: 1398).

    Wahai kalian yang tergesa-gesa dalam ruku dan sujudnya!!

    Perpanjang ruku dan sujudlah semampumu!!!

    Agar dosa-dosamu berguguran, dan jangan sia-siakan kesempatan emas ini!

    Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, dan memudahkan kita semua mendapatkan sebab-sebab pengampunan dosa-dosa kita

    آمين يا رب العالمين

    19 Robi’ul Awwal 1437
    30 Desember 2015
    Di Kota Mangga

  • Bid’ah Itu Salah Satu Jenis Bentuk Kufur Nikmat

    Bid’ah Itu Salah Satu Jenis Bentuk Kufur Nikmat

    Syekh Bin Baz -rahimahullah Ta’ala- berkata:

    ومن الشكر لله عز وجل لزوم السنة والحذر من البدع.

    فإن كثيرا من الناس قد يبتلى بالبدعة تقليدا وتأسيا بغيره، وأسبابها الجهل.

    والبدعة نوع من كفران النعم وعدم الشكر لله سبحانه وتعالى.

    “Dan di antara bentuk syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah dengan konsisten (berpegang teguh) dengan sunnah, dan waspada terhadap bid’ah”.

    “Karena sesungguhnya kebanyakan manusia diuji dengan perbuatan bid’ah karena taqlid dan mengikuti orang lain, dan sebabnya adalah kejahilan”.

    “Bid’ah itu salah satu jenis bentuk kufur nikmat dan tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”. (Majmu’ al-Fatawa: 5/175).

  • Hukuman Had Tidak Bisa Dilaksanakan Tanpa Bukti Dan Saksi

    Hukuman Had Tidak Bisa Dilaksanakan Tanpa Bukti Dan Saksi

    📖 Hadits kesembilan puluh tujuh dari buku 100 hadits tentang Wanita

    Pelaksanaan hukuman had tidak bisa dilakukan tanpa adanya bukti dan saksi.

    Dan gaya bicara serta gerak gerik seorang wanita, atau dengan laki-laki siapa dia bergaul menunjukkan akan kualitas dirinya.

    Maka dari itu jagalah diri, dan kesucian serta kehormatan diri dengan tidak melakukan perbuatan rendahan atau menampakan perbuatan keji.

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ كُنْتُ رَاجِمًا أَحَدًا بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ لَرَجَمْتُ فُلَانَةَ، فَقَدْ ظَهَرَ مِنْهَا الرِّيبَةُ فِي مَنْطِقِهَا، وَهَيْئَتِهَا، وَمَنْ يَدْخُلُ عَلَيْهَا. ابْنُ مَاجَةَ

    Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Seandainya aku orang yang menghukum rajam seseorang tanpa harus ada saksi, niscaya aku akan menghukum rajam fulanah, sungguh telah nampak dari dirinya keraguan, baik dari ucapan, gerak-gerik dan laki-laki yang datang padanya”. (HR. Ibnu Majah).

    Hadits yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa hukuman had tidak bisa dilaksanakan tanpa bukti dan saksi.

    Allahu a’lam.

  • Ghibah

    Ghibah

    📖 Hadits kesembilan puluh delapan dari buku 100 hadits tentang Wanita

    Ketahuilah, bahwa ghibah itu sangat berbahaya bagi diri sendiri. Karena akan mengurangi pahala kita. Demikian pula mengejek dan mengolok-olok orang lain.

    Di antara bentuk ghibah juga adalah, menirukan gerak gerik orang lain dalam rangka mengejek, atau membuat orang lain tertawa. Atau merendahkan orang lain, karena kekurangan fisik yang ada padanya juga termasuk ghibah.

    عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا -تَعْنِي قَصِيرَةً- فَقَالَ: لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ. قَالَتْ: وَحَكَيْتُ لَهُ إِنْسَانًا فَقَالَ: مَا أُحِبُّ أَنِّي حَكَيْتُ إِنْسَانًا وَأَنَّ لِي كَذَا وَكَذَا. أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيِّ

    Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: aku berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: cukuplah Shafiah bagimu seperti ini dan seperti ini -maksudnya pendek-.

    Maka Beliau bersabda: “Sungguh engkau telah mengatakan suatu kalimat, sekiranya itu dicampur dengan air laut maka ia akan dapat menjadikannya berubah tawar”.

    ‘Aisyah berkata: Aku juga pernah menirukan gerak gerik orang lain kepada beliau, tetapi beliau malah berkata: “Aku tidak suka menirukan orang lain meskipun aku diberi begini dan begini (harta yang banyak)”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

    Semoga kita semua dijauhkan dari perbuatan ghibah ini.