SBUMSBUM Akhwat

SBUM AKHWAT NOMOR 1165 – ACAMAN NERAKA BAGI PELAKU TRANSAKSI RIBA

SBUM
Sobat Bertanya Ustadz Menjawab

 

NO : 1165

Dirangkum oleh Grup Islam Sunnah | GiS
https://grupislamsunnah.com

Kumpulan Soal Jawab SBUM
Silakan Klik : https://t.me/GiS_soaljawab

Judul bahasan

ACAMAN NERAKA BAGI PELAKU TRANSAKSI RIBA

💬 Pertanyaan
Nama: Ririn
Angkatan: T.04
Grup : GiS-T4.51
Nama Admin : Yusmita Febriana
Nama Musyrifah : Nova Nor
Cahyani
Domisili : Bulukumba

 

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Izin bertanya Ustadz.

Ustadz sebelum saya hijrah, saya terlilit riba, baik itu arisan online, pinjol, dll..

Saat ini saya sudah menjauhi semua itu..
Dan berusaha sedikit demi sedikit menyelesaikan..

Baru-baru ini owner arisan yang saya ikuti, saya ikut arisan menurun.. Yang kalau dapat di awal rugi besar, tapi kalau dapat di akhir-akhir untung besar. Namun qodarulllah si penanggung jawab ini kabur..

1️⃣ Saya tetap melanjutkan pembayaran atau bagaimana Ustadz?

2️⃣ Kalau saya lanjutkan apa tidak berlanjut dosa riba saya?

Dalam niat saya, saya ingin mendahulukan membayar hutang kepada orang-orang yang tulus membantu saya tanpa riba kemarin.

3️⃣ Apakah bisa saya alihkan kesitu?

Saya sempat bertanya juga dengan suami solusinya bagaimana, karena suami yang membayarkan. Kata suami tidak mau mengambil resiko dengan membayar lanjutannya ya ustadz, saya bingung harus bagaimana?
Mohon pencerahannya Ustadz…

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم.

  Jawaban

وعليكم السلام ورحمة اللّه وبركاته

بسم الله

Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan untuk saudariku.

✔️ Pertanyaannya kurang jelas apa yang di maksud. Namun kami berusaha memahami yang kami bisa.

Jawab.
Bahaya pemakan Uang Riba dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda menceritakan mimpi beliau, ketika itu beliau melihat siksaan Allah kepada para pemakan riba,

فَأَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ أَحْمَرَ مِثْلِ الدَّمِ ، وَإِذَا فِى النَّهَرِ رَجُلٌ سَابِحٌ يَسْبَحُ ، وَإِذَا عَلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ حِجَارَةً كَثِيرَةً ، وَإِذَا ذَلِكَ السَّابِحُ يَسْبَحُ مَا يَسْبَحُ ، ثُمَّ يَأْتِى ذَلِكَ الَّذِى قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ الْحِجَارَةَ فَيَفْغَرُ لَهُ فَاهُ فَيُلْقِمُهُ حَجَرًا فَيَنْطَلِقُ يَسْبَحُ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَيْهِ ، كُلَّمَا رَجَعَ إِلَيْهِ فَغَرَ لَهُ فَاهُ فَأَلْقَمَهُ حَجَرًا

“Kami mendatangi sungai airnya merah, seperti darah. Di tengah sungai ada orang yang berenang. Sementara di tepi sungai ada seseorang yang di dekatnya ada banyak bebatuan. Setiap kali orang yang di tengah sungai berenang menepi, datang orang yang membawa batu, lalu dia lempari mulut orang yang berenang itu, sampai dia menelan batunya. Hingga dia balik berenang ke tengah. Ketika kembali menepi, mulutnya dilempari batu sampai tertelan. Seusai perjalanan panjang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diberi tahu malaikat yang membimbingnya,

وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يَسْبَحُ فِى النَّهَرِ وَيُلْقَمُ الْحَجَرَ ، فَإِنَّهُ آكِلُ الرِّبَا

Orang yang kamu lihat dia berenang di sungai darah dan mulutnya dibungkam batu, dia adalah pemakan riba. (HR. Bukhari 7047, Ahmad 20627 dan yang lainnya).

Penghisap darah manusia di dunia, disiksa dengan sungai darah di alam kubur.

Apakah Utang Bank Harus Dilunasi?

Sebenarnya, seorang muslim tidak wajib menyerahkan hartanya kepada orang lain yang bukan menjadi kewajibannya. Dan membayar riba, bukan tanggung jawab orang yang berutang. Bahkan dalam Islam itu dilarang, karena jika bunga itu diberikan, berarti orang yang berhutang, memberi makan riba. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melaknat orang yang memberi makan riba. Sahabat Jabir bin Abdillah mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melaknat pemakan riba, yang memberi makan riba, yang mencatat, dan keduaa saksinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan, mereka semua sama. (HR. Ahmad 14634, Muslim 4177 dan yang lainnya)

Jika adanya bunga dalam pinjaman itu jadi syarat, maka syarat semacam ini tidak berlaku. Karena syarat riba adalah syarat yang batil, bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah. Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِى كِتَابِ اللَّهِ فَهْوَ بَاطِلٌ

“Barangsiapa menetapkan syarat yang bertentangan dengan kitabullah, maka syarat itu batil.” (HR. Bukhari 2560)
Ketika transaksi ada syarat yang batil, transaksinya tetap sah, meskipun syarat itu tidak berlaku. Sehingga, untuk kasus hutang yang disyaratkan ada ribanya.
Namun kewajiban orang yang berhutang hanya mengembalikan pokoknya saja atau hutang pokoknya saja. Sementara kelebihannya, bukan tanggung jawabnya. Tidak ada yang mendzalimi dan tidak ada yang didzalimi. Antara utang dan pelunasan, di bayar sama.

Namun perlu di perhatikan…!!

Nasabah terikat dengan undang-undang dzalim buatan bank. Dan undang-undang ini mengikat di negara kita. Ketika nasabah bertekad tidak mengembalikannya, dikhawatirkan bank bisa menuntutnya. Jika tidak bisa diselesaikan di darat, bank bisa menggunakan jasa pengadilan. Dampak kedzaliman yang ditimbulkan, bisa lebih menakutkan. Sementara ada sebagian bank yang menetapkan sistem bunga-berbunga. Sehingga bisa jadi, nasabah sudah merasa melunasi pokok utangnya, tapi bunga menghasilkan bunga. Jika dibiarka tahunan, bisa menjadi angka yang tidak terduga.
Sehingga dari pertimbangan ini, nasabah perlu memahami aturan main bank. Semakin selamat dari bank, makin menenangkan.

والله تعالى أعلم

  Dijawab oleh : Ustadz Abu Fathiyya Abdus Syakur, S.Ud,. M.Pd.I

 

Official Account Grup Islam Sunnah (GiS)⁣⁣

WebsiteGIS: https://grupislamsunnah.com
Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
Telegram Soal Jawab: https://t.me/GiS_soaljawab
YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button