SBUMSBUM Akhwat

SBUM AKHWAT NOMOR 1215 – HUKUM BEKERJA di BANK

SBUM
Sobat Bertanya Ustadz Menjawab

 

NO : 1215

Dirangkum oleh Grup Islam Sunnah | GiS
https://grupislamsunnah.com

Kumpulan Soal Jawab SBUM
Silakan Klik : https://t.me/GiS_soaljawab

Judul bahasan

HUKUM BEKERJA di BANK

💬 Pertanyaan
Nama: FN
Angkatan: T05
Grup :T5.03
Nama Admin : Dewi Baiduri
Nama Musyrifah : Nina Rivana
Domisili : Pasaman, Sumbar

 

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Izin bertanya Ustadz.

Ana saat ini masih aktif bekerja di salah satu bank konvensional, bagian back office operasional, bukan bagian marketing atau administrasi kredit.

Apakah bekerja di bank termasuk riba ?

Bank konvensional maupun syariah menurut ana sama saja. Sementara untuk kondisi zaman sekarang, rata-rata urusan keuangan memerlukan bank.

Tolong yakinkan ana Ustadz.

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم.

  Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والصلام على رسول الله اما بعد.

1️⃣ Bekerja di Bank yang sistemnya ribawi, haram hukumnya. Dan bekerja tolong menolong dengan pihak bank juga diharamkan.

Dalam fatawa Lajnah ad Daimah (15/41) diterangkan:

لا يجوز لمسلم أن يعمل في بنك تعامله بالربا ، ولو كان العمل الذي يتولاه ذلك المسلم غير ربوي ؛لتوفيره لموظفيه الذين يعملون في الربويات ما يحتاجونه ويستعينون به على أعمالهم الربوية ، وقد قال تعالى : ( وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الأِثْمِ وَالْعُدْوَان ).

Tidak boleh bagi seorang muslim bekerja di bank yang menganut sistem riba. Meski pekerjaannya tidak berkaitan langsung dengan riba.

Hal ini karena dengan pekerjaan tersebut, ia membantu atau menyediakan keperluan para pegawai yang berkaitan langsung dengan transaksi riba. Sementara Allah Ta’ala berfirman :

{ وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الأِثْمِ وَالْعُدْوَان }

“Dan janganlah kamu tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al Maidah : 2)

Bahkan jika hanya menjadi sopir dan securitynya tidak dibolehkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘ Ustaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum bekerja sebagai satpam atau sopir di bank konvensional. Beliau menjawab,

لا يجوز العمل بالمؤسسات الربوية ولو كان الإنسان سائقا أو حارسا ، وذلك لأن دخوله في وظيفة عند مؤسسات ربوية يستلزم الرضى بها ، لأن من ينكر الشيء لا يمكن أن يعمل لمصلحته ، فإذا عمل لمصلحته فإنه يكون راضيا به ، والراضي بالشيء المحرم يناله من إثمه.

Tidak boleh bekerja pada perusahaan-perusahaan ribawi. Meskipun hanya sebagai sopir atau satpam. Karena masuknya ia sebagai pekerja di perusahaan ribawi, menunjukkan keridhoannya terhadap perusahaan yang menganut sistem riba tersebut. Seorang yang tidak setuju pada sesuatu, tentu dia tidak akan bekerja untuk kepentingan yang tidak ia setujui tersebut. Bila ia berkenan untuk bekerja demi kepentingan perusahaan tersebut, itu menunjukkan bahwa dia ridha dengannya. Dan seorang yang ridho dengan perbuatan haram, menanggung dosa perbuatan tersebut.

2️⃣ Bank konvensional yang ada sekarang menganut sistem yahudi yang Ribawi.

3️⃣ Adapun menabung di bank ribawi dibolehkan oleh sebagian ulama jika khawatir hilangnya harta ketika disimpan di rumah, dengan syarat tidak mengambil bunganya. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah mengatakan,

لا حرج عليك أن تودع أموالك في البنوك خوفًا عليها من الضياع، وهذه مسألة ضرورة، فإذا احتجت إلى ذلك فلا حرج بدون فائدة.

أما إذا تيسر إيداعها في بنوك إسلامية؛ فتشجع البنوك الإسلامية وتعينها على مهمتها، فإنها عند ذلك أولى وأحق

“Tidak mengapa menyimpan harta di bank jika khawatir akan hilangnya harta. Ini adalah masalah yang darurat. Jika memang dibutuhkan untuk menyimpan uang, yang demikian itu tidak mengapa (diperbolehkan), namun TANPA MENGAMBIL BUNGA.

Atau beberapa transaksi seperti;

a. Tukar uang, ada umumnya tidak ada pengurangan maka ini tidak riba.

b. Layanan transfer dan penarikan uang. Ini juga termasuk akad ijarah (sewa jasa) yang tidak bermasalah.c. Pembelian pulsa, pembayaran telepon langganan, pembayaran listrik, pembelian token listrik, pembayaran marketplace, dan semisalnya. Ini juga sewa jasa yang dibolehkan.

Adapun bekerja di Bank dan membantu kegiatan mereka, maka yang diharamkan para ulama.

والله تعالى أعلم بالصواب.

   Dijawab oleh : Wukir Saputro Lc.,M.Pd

Official Account Grup Islam Sunnah (GiS)⁣⁣

WebsiteGIS: https://grupislamsunnah.com
Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
Telegram Soal Jawab: https://t.me/GiS_soaljawab
YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button