SBUMSBUM Akhwat

SBUM AKHWAT NOMOR 427 – SUAMI SERING CHATTING DENGAN WANITA LAIN

SBUM
Sobat Bertanya Ustadz Menjawab

 

NO : 427

Dirangkum oleh Grup Islam Sunnah | GiS
https://grupislamsunnah.com

Kumpulan Soal Jawab SBUM
Silakan Klik : https://t.me/GiS_soaljawab

Judul bahasan

SUAMI SERING CHATTING DENGAN WANITA LAIN

💬 Pertanyaan
Nama: Fulanah
Angkatan: 02
Grup : 01
Nama Admin : Ummu Yafi’
Nama Musyrifah : Salmha Ummu
Dimas
Domisili : Aceh

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Semoga Ustadz beserta keluarga senantiasa dalam lindungan dan limpahan rahmat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Aamiin.

Afwan, Ustadz izin bertanya.

Bagaimana sikap seorang istri apabila suaminya punya kawan perempuan yang lebih dari sekedar pertemanan biasa, yang komunikasi intens di medsos, sudah beberapa kali ketahuan dengan istri dan selalu janji untuk berubah dan tidak lagi mengulangi tapi dari awal pernikahan sampai sudah punya anak 3 itu terus berlanjut. Sang istri sudah pernah menyampaikan ke suami, jika memang tertarik dengan si perempuan menikahlah, karena lebih baik menikah dari pada hubungan yang penuh maksiat, walaupun berat si istri akan coba menerima. Tapi suami tetap bersikokoh tidak akan menikah perempuan itu.

Ya, Ustadz apa yang harus dilakukan istri, jika disuruh dandan untuk menarik simpati suami, suami sedikit pelit dalam hal sandang untuk istri, jadi si istri harus seperti apa ustadz, karena istri tidak ingin mengambil tindakan yang salah yang bisa mengorbankan anak?

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم.

 Jawaban

وعليكم السلام ورحمة اللّه وبركاته

بسم الله

Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasulillaah. Amma ba’du.

Saling menelepon antar lawan jenis itu tidaklah diperbolehkan secara mutlak. Bahkan ini adalah tipu daya iblis.

Wanita adalah fitnah terbesar bagi laki laki.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita.”
(HR Bukhari No. 4808 dan Muslim No. 2740 dari Usamah bin Zaid ).

Nabi Shallallahu’Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ

“Sesungguhnya awal kebinasaan Bani Israil adalah disebabkan masalah wanita”.
(HR Muslim No. 7124 dari Abu Said al Khudri).

Semua hal ini adalah trik-trik iblis untuk menjerumuskan kaum Muslimin dalam hal-hal yang haram.

Solusi

1️⃣ Istri harus menasihati suami dengan bahasa yang santun dan tidak terkesan menggurui.

2️⃣ Terus berdo’a dengan tawassul kepada Asma Allah dan sifat-sifat Allah seperti dengan sifat Dzat yang Maha membolak-balikan hati agar dibalikan hati suami kepada kebenaran dan yakin atas do’a tersebut kemudian bersabar dan jangan terburu-buru dalam ijabah do’a.

3️⃣ Minta nasihat kepada ahli ilmu agar menasehati suami Anti. Karena ngobrol berdua-duaan dengan lawan jenis merupakan salah satu pintu dari sekian banyak pintu pembuka fitnah.

4️⃣ Adapun sikap pelit suami maka nasihatkan pula tentang,

Pertama firman Allah Ta’alaa;

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Kewajiban ayah memberi makan dan pakaian (nafkah) kepada para istri dengan cara ma’ruf”.
(QS. Al-Baqarah: 232).

Ayat ini menjadi dalil tegas bahwa kewajiban memberi nafkah anak istri berada di pundak para suami.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat di atas,

وعلى والد الطفل نفقة الوالدات وكسوتهن بالمعروف ، أي : بما جرت به عادة أمثالهن في بلدهن من غير إسراف ولا إقتار

“Bagi ayah, bertanggung jawab menafkahi dan memberi sandang yang ma’ruf.”

Kemudian beliau menjelaskan makna ma’ruf pada ayat,

“Yaitu nafkah yang layak sesuai yang berlaku di daerah yang dia tinggali, tanpa berlebihan dalam memberi nafkah dan juga tidak pelit.”
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir untuk ayat di atas).

Kedua dalam Islam, dibolehkan bagi istri untuk mengambil penghasilah suami meski tanpa izin dan sepengetahuannya di saat suami pelit. Pelit dalam artian, nafkah yang dia berikan tidak bisa mencukupi kebutuhan primer istri dan anak-anak, atau bahkan suami sama sekali tidak memberinya jatah.

Dasarnya adalah, hadis tentang Hindun binti ‘Utbah radhiallaahu ‘anha, saat beliau mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Ya Rasulullah, Abu Sufyan itu (suami Hindun) tidak memberikan nafkah yang mencukupi kebutuhanku dan kebutuhan anakku.”

خذي من ماله بالمعروف ما يكفيك ويكفي بنيك

“Ambillah sebagian dari hartanya secara baik-baik, sesuai dengan apa yang mencukupi kebutuhanmu dan anakmu.” Jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
(HR. Bukhari 2211 dan Muslim 4574).

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

 Dijawab oleh : Ustadz Wukir Saputro, Lc.

Official Account Grup Islam Sunnah (GiS)⁣⁣

WebsiteGIS: https://grupislamsunnah.com
Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
Telegram Soal Jawab: https://t.me/GiS_soaljawab
YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button